ZoyaPatel

LET PAPUAN’S CHILDREN GROW IN PEACE

Mumbai

Ketika Tubuh-Tubuh Kecil Menjadi Medan Perang yang Tak Pernah Mereka Pilih

Di dalam lukisan karya Belandina Yeimo, seorang anak Papua digambarkan bukan lagi sebagai manusia utuh, melainkan seperti akar yang dicabut paksa dari tanahnya sendiri. Tubuh kecil itu terkulai. Tangannya lemah. Darah mengalir seperti sungai merah yang membawa pergi masa depan. Sementara sebuah tangan berseragam mencengkeram tubuhnya tanpa belas kasih.

Lukisan itu tidak berteriak.
Tetapi diamnya jauh lebih keras daripada bunyi peluru.

Kalimat pendek di bawah gambar itu berbunyi:

“Let Papuan’s Children Grow in Peace.”

Sebuah permintaan yang sangat sederhana.
Namun di tanah Papua, kedamaian sering kali menjadi sesuatu yang mewah.


Anak-Anak yang Tumbuh Bersama Ketakutan

Di banyak wilayah konflik, anak-anak tidak mengenal dunia lewat taman bermain atau buku cerita. Mereka mengenal suara helikopter sebelum mengenal lagu nina bobo. Mereka hafal bunyi tembakan sebelum sempat memahami arti masa depan.

Di Papua, konflik panjang telah meninggalkan luka yang tidak selalu tercatat dalam laporan resmi. Ada anak-anak yang kehilangan ayahnya. Ada perempuan yang berjalan berhari-hari mengungsi ke hutan. Ada keluarga yang tidur dengan rasa takut bahwa malam bisa berubah menjadi tragedi.

Dan ketika kekerasan terus berulang, generasi muda perlahan tumbuh bukan dengan rasa aman, tetapi dengan trauma.

Lukisan Belandina Yeimo menangkap luka itu dengan simbol yang sangat kuat: tubuh anak yang berubah menjadi akar pohon. Itu bukan sekadar estetika seni digital. Itu adalah metafora tentang hubungan orang Papua dengan tanahnya.

Akar berarti kehidupan.
Akar berarti identitas.
Akar berarti rumah.

Ketika akar dicabut, yang mati bukan hanya pohonnya — tetapi juga harapan untuk bertumbuh.


Perempuan dan Anak Selalu Menjadi Korban Paling Sunyi

Di hampir semua konflik dunia, perempuan dan anak-anak sering menjadi korban paling sunyi. Mereka jarang memegang senjata, tetapi justru menanggung dampak paling panjang.

Perempuan kehilangan ruang aman.
Anak-anak kehilangan masa kecil.
Dan masyarakat kehilangan generasi penerus yang seharusnya membangun masa depan.

Papua tidak membutuhkan lebih banyak makam kecil.
Papua membutuhkan sekolah yang penuh suara tawa.
Papua membutuhkan ibu-ibu yang tidak lagi menangis karena kehilangan anak.
Papua membutuhkan generasi muda yang bisa bermimpi tanpa dihantui rasa takut.

Karena tidak ada ideologi, kepentingan politik, atau operasi keamanan apa pun yang lebih berharga daripada nyawa seorang anak.


Seni Sebagai Jeritan yang Tidak Bisa Dibungkam

Sejarah menunjukkan bahwa ketika suara rakyat dibatasi, seni akan mengambil alih tugas berbicara.

Lukisan, musik, puisi, film dokumenter, dan mural sering menjadi bahasa terakhir bagi mereka yang merasa tidak didengar. Seni tidak selalu hadir untuk memberikan jawaban. Kadang ia hadir hanya untuk memastikan bahwa luka itu benar-benar ada.

Karya Belandina Yeimo berdiri di wilayah itu.

Ia bukan sekadar gambar digital.
Ia adalah kesaksian emosional.

Warna merah darah yang mengalir di bawah tubuh anak itu terasa seperti pertanyaan yang ditinggalkan kepada dunia:

Berapa banyak lagi anak Papua yang harus kehilangan masa depan sebelum perdamaian dianggap penting?


Papua dan Hak untuk Tumbuh dengan Damai

Setiap anak, di mana pun ia lahir, memiliki hak yang sama untuk hidup aman, belajar, bermain, dan bermimpi. Anak Papua tidak seharusnya tumbuh di tengah suara konflik yang tak selesai.

Mereka berhak mengenal hutan sebagai tempat bermain, bukan tempat berlindung.
Mereka berhak mengenal langit sebagai ruang harapan, bukan arah datangnya ancaman.

Pesan utama dari lukisan ini sebenarnya sangat manusiawi dan universal:

Biarkan anak-anak Papua tumbuh dalam damai.

Kalimat itu bukan tuntutan yang rumit.
Itu adalah panggilan nurani.


Pada akhirnya, sebuah bangsa akan diingat bukan hanya dari kekuatan militernya atau kekayaan alamnya, tetapi dari bagaimana ia melindungi anak-anaknya.

Dan lukisan Belandina Yeimo mengingatkan kita bahwa di balik setiap konflik, selalu ada tubuh kecil yang menanggung beban paling besar.

Tubuh yang seharusnya dipeluk,
bukan dicengkeram.

Tubuh yang seharusnya bertumbuh,
bukan berdarah.

Karena setiap anak Papua yang hidup dalam damai adalah harapan bahwa tanah itu masih memiliki masa depan.


Ahmedabad