ZoyaPatel

DARI PEGUNUNGAN PAPUA KE PANGGUNG DUNIA: “PESTA BABI” DAN PERTARUNGAN NARASI TENTANG PAPUA

Mumbai

 

International Feature • Papua Documentary

Dari Pegunungan Papua ke Panggung Dunia

“PESTA BABI” dan pertarungan melalui visual tentang Papua yang sebenarnya.

Di sebuah wilayah pegunungan Papua Barat, asap tungku batu perlahan naik ke udara. Orang-orang berkumpul, babi disiapkan, doa-doa adat dipanjatkan, dan kehidupan masyarakat berjalan sebagaimana diwariskan leluhur selama ratusan tahun. Namun di balik ritual budaya itu, tersimpan kisah yang jauh lebih besar: tentang tanah, ketakutan, ingatan kolektif, dan perebutan narasi mengenai Papua.

Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita kini menjadi salah satu karya paling kontroversial yang muncul dari Indonesia dalam beberapa bulan terakhir. Bukan karena efek visualnya, melainkan karena keberaniannya membawa isu Papua ke ruang publik nasional dan internasional melalui bahasa dokumenter yang tajam dan emosional.

Disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono bersama Cypri Paju Dale, dan diproduksi oleh WatchDoc bersama sejumlah jaringan media dan organisasi sipil, film ini bergerak melampaui sekadar dokumentasi budaya. Ia berubah menjadi perdebatan nasional tentang kebebasan berekspresi, kekuasaan negara, dan siapa yang berhak menceritakan Papua.

“Semakin sebuah film dibatasi, semakin besar rasa ingin tahu dunia untuk menontonnya.”

— Narasi yang mengiringi kontroversi “Pesta Babi”

Polemik semakin membesar ketika sejumlah pemutaran publik disebut dibubarkan atau mendapat penolakan dari aparat di beberapa daerah. Kodam XVII/Cenderawasih menyatakan film tersebut belum memiliki Surat Tanda Lulus Sensor untuk pemutaran publik tertentu. Di sisi lain, para pendukung film menilai dokumenter tidak selalu berada dalam jalur distribusi bioskop komersial yang sama dengan film hiburan biasa.

Kontroversi itu justru menghasilkan efek yang sering muncul dalam sejarah film politik dunia: semakin dibatasi, semakin banyak orang ingin menonton.

Di media sosial, nama Pesta Babi menyebar cepat. Potongan gambar, poster, dan perdebatan tentang Papua membanjiri berbagai platform digital. Banyak yang mulai membandingkan situasi ini dengan dokumenter-dokumenter politik internasional yang awalnya ditolak atau dianggap sensitif, namun akhirnya mendapat perhatian global setelah viral di publik.

Papua sendiri bukan isu kecil dalam percakapan internasional. Selama puluhan tahun, wilayah paling timur Indonesia itu menjadi perhatian berbagai organisasi HAM, aktivis lingkungan, gereja, hingga jaringan masyarakat adat internasional. Konflik bersenjata antar TNI Polri dan TPNPB (Tentara pembebasan Nasional Papua Barat), eksploitasi sumber daya alam, operasi keamanan, dan tuntutan politik telah membentuk citra Papua sebagai salah satu kawasan paling kompleks di Asia Pasifik.

Papua bukan lagi cerita yang terkunci di lembah sungai dan pegunungan .

Dalam konteks itu, Pesta Babi hadir bukan hanya sebagai film, tetapi sebagai simbol pertarungan narasi.

Pemerintah Indonesia selama ini terus menegaskan bahwa pembangunan di Papua sedang berjalan dan stabilitas keamanan harus dijaga. Namun para kritikus menilai masih banyak suara orang asli Papua yang belum mendapat ruang setara dalam media nasional.

Film dokumenter kemudian menjadi medium alternatif untuk menyampaikan realitas secara visual yang jarang muncul di televisi arus utama.

Yang membuat dokumenter ini semakin menarik perhatian adalah perpaduan antara budaya dan politik. Judul Pesta Babi sendiri merujuk pada tradisi penting masyarakat pegunungan Papua — sebuah simbol persaudaraan, penghormatan, dan kehidupan komunal.

Tetapi dalam film ini, simbol budaya itu ditempatkan berdampingan dengan realitas konflik modern.

Bagi banyak penonton internasional, kombinasi semacam itu sangat kuat secara emosional dan sinematik: masyarakat adat, tanah leluhur, aparat keamanan, trauma sejarah, dan perjuangan identitas Sebagai sebuah bangsa ( Papua Barat).

Pertanyaan besar kini mulai muncul di kalangan pegiat film: apakah Pesta Babi akan menembus festival-festival internasional atau bahkan platform streaming global seperti Netflix?

Kemungkinannya terbuka.

Dunia dokumenter internasional memiliki sejarah panjang dalam mengangkat karya-karya dari wilayah konflik. Dari Amerika Latin hingga Timur Tengah, banyak film dokumenter yang awalnya dianggap terlalu sensitif justru akhirnya menjadi sorotan global karena keberhasilannya memperlihatkan sisi kemanusiaan di balik konflik politik.

Namun jalan menuju panggung internasional tidak mudah. Film seperti ini harus melewati tantangan hukum, distribusi, sensor, keamanan narasumber, hingga tekanan politik.

Meski begitu, perhatian dunia terhadap Papua tampaknya terus tumbuh.

Dan di era digital saat ini, sebuah film tidak lagi membutuhkan layar bioskop besar untuk mengguncang opini publik. Cukup satu potongan video viral, satu festival independen, atau satu perdebatan besar di media sosial — lalu cerita dari pedalaman Papua dapat melintasi batas negara dan memasuki percakapan global.

Ketika kamera menjadi alat paling kuat untuk merekam suara dari pinggir sejarah panjang bangsa papua.

Pada akhirnya, Pesta Babi mungkin akan dikenang bukan hanya sebagai dokumenter tentang Papua, tetapi sebagai penanda zaman: ketika kamera menjadi alat paling kuat untuk merekam suara yang selama ini berada di pinggir sejarah panjang.

© 2026 • INTERNATIONAL FEATURE • PAPUA DOCUMENTARY REPORT
Ahmedabad