Papua Harus Berhenti Menjadi Konsumen Berita dan Mulai Menjadi Produsen Kebenaran
Mumbai
Ahmedabad
Oleh:W.Kaibou T. Doo
Di era digital hari ini, informasi bergerak lebih cepat daripada pikiran manusia. Setiap detik, berita, potongan video, status media sosial, dan narasi politik melintasi layar ponsel masyarakat Papua. Kita membaca, menonton, membagikan, dan bereaksi. Namun ada satu pertanyaan penting yang jarang kita tanyakan: apakah kita hanya menjadi konsumen berita, atau kita ikut menjadi penjaga kebenaran?
Menjadi konsumen berita berarti menerima informasi secara pasif.
Kita mengandalkan pihak luar untuk menceritakan siapa kita, bagaimana daerah kita, dan apa yang terjadi di tanah kita sendiri. Masalahnya, tidak semua informasi yang datang dari luar memahami konteks sosial, budaya, dan sejarah Papua secara utuh. Akibatnya, narasi tentang Papua sering kali tidak lengkap, bias, atau bahkan keliru. Jika masyarakat Papua hanya diam dan terus mengonsumsi berita tanpa ikut terlibat dalam proses penyampaian informasi, maka identitas Papua akan selalu ditulis oleh orang lain.
Di sinilah pentingnya perubahan peran: rakyat Papua harus menjadi jurnalis bagi negerinya sendiri.
Menjadi jurnalis bukan berarti semua orang harus bekerja di perusahaan media. Maknanya lebih luas. Jurnalisme rakyat adalah kesadaran kolektif untuk menyampaikan fakta secara jujur, bertanggung jawab, dan berimbang. Setiap warga bisa menjadi mata dan telinga bagi masyarakat. Ketika terjadi sesuatu di kampung, di kota, di sekolah, di pasar, atau di jalan, rakyat Papua punya kemampuan untuk mendokumentasikan, memverifikasi, dan menyampaikan informasi dengan etika. Ini adalah bentuk kemandirian informasi.
Mengapa hal ini penting? Karena informasi membentuk cara dunia memandang Papua — dan lebih penting lagi, membentuk cara orang Papua memandang dirinya sendiri. Jika yang beredar hanya berita sensasional, konflik, dan tragedi tanpa keseimbangan cerita tentang pendidikan, budaya, inovasi, dan kehidupan sehari-hari yang penuh harapan, maka citra Papua akan selalu timpang. Padahal kenyataan Papua jauh lebih luas daripada potongan-potongan berita yang viral.
Jurnalisme rakyat memberi ruang bagi suara yang selama ini tidak terdengar. Ia mengangkat cerita guru di pedalaman, petani yang berjuang, pemuda yang membangun komunitas literasi, perempuan yang menjaga tradisi, dan anak-anak yang bermimpi besar. Cerita-cerita ini bukan sekadar berita ringan; ini adalah fondasi identitas kolektif. Ketika rakyat Papua mulai aktif menyampaikan kisahnya sendiri, mereka sedang menulis sejarahnya sendiri.
Namun menjadi jurnalis rakyat bukan tanpa tanggung jawab. Di tengah banjir informasi, hoaks dan manipulasi mudah menyebar. Karena itu, keberanian berbicara harus diimbangi dengan disiplin mencari kebenaran. Informasi harus diperiksa sebelum dibagikan. Sumber harus jelas. Bahasa harus menjaga martabat manusia. Kritik harus tajam, tetapi tidak merendahkan. Jurnalisme yang sehat bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang paling akurat.
Selain itu, jurnalisme rakyat juga berperan sebagai alat pendidikan publik. Masyarakat yang terbiasa membaca informasi yang benar akan belajar berpikir kritis. Mereka tidak mudah terprovokasi, tidak gampang dipecah belah, dan tidak cepat percaya pada rumor. Dalam jangka panjang, budaya informasi yang sehat akan memperkuat demokrasi lokal dan mempererat solidaritas sosial.
Papua memiliki kekayaan cerita yang tidak dimiliki tempat lain di dunia. Alamnya, bahasanya, adatnya, dan dinamika sosialnya adalah sumber narasi yang tak habis digali. Jika rakyat Papua berani mengambil peran sebagai penyampai informasi yang jujur, maka dunia tidak lagi melihat Papua dari kejauhan, tetapi mendengarnya langsung dari suara orang Papua sendiri.
Perubahan ini dimulai dari langkah kecil: belajar menulis, belajar mendokumentasikan peristiwa, belajar memeriksa fakta, dan belajar menggunakan media dengan bijak. Dari kampung ke kampung, dari sekolah ke sekolah, dari komunitas ke komunitas, budaya jurnalisme rakyat bisa tumbuh sebagai gerakan literasi. Ini bukan sekadar soal berita; ini tentang kesadaran bahwa setiap warga memiliki peran dalam menjaga kebenaran.
Papua tidak kekurangan cerita. Papua hanya membutuhkan lebih banyak orang yang berani menceritakannya dengan jujur.
Ketika rakyat berhenti menjadi konsumen pasif dan mulai menjadi produsen informasi yang bertanggung jawab, Papua tidak hanya berbicara — Papua didengar.
**