Natal di Tanah Papua: Pesta, Harga, dan Luka yang Terus Berkisah
Mumbai
Ahmedabad
Oleh: Wempi W Doo
Natal kembali hadir di Tanah Papua membawa kisah kelahiran Sang Raja Damai, Yesus Kristus. Kisah yang setiap tahun dihidupi dalam doa, nyanyian gereja, dan tradisi kampung. Namun di Papua, Natal tidak pernah hanya satu cerita. Ia selalu berkisah tentang sukacita sekaligus penderitaan.
Menjelang Natal tahun ini, realitas ekonomi kembali menekan rakyat kecil. Harga kebutuhan pokok melonjak, terutama harga babi yang naik hingga tiga kali lipat. Bagi orang Papua, babi bukan sekadar komoditas pasar. Ia adalah simbol adat, relasi sosial, dan martabat keluarga. Ketika harga babi melambung tanpa kendali, Natal berubah dari perayaan iman menjadi beban ekonomi.
Banyak keluarga dipaksa berutang, menjual hasil kebun, atau mengorbankan kebutuhan hidup demi memenuhi tuntutan tradisi dan ekspektasi sosial. Di sini, pasar bekerja tanpa nurani. Tradisi dijadikan alasan, sementara negara nyaris tak hadir untuk melindungi rakyat dari praktik ekonomi yang mencekik.
Di sisi lain, Natal di wilayah-wilayah konflik di Papua menghadirkan kisah yang jauh lebih sunyi. Tidak ada pesta, tidak ada kemeriahan. Yang ada hanyalah pengungsian, ketakutan, dan keterbatasan pangan. Warga merayakan Natal di tenda darurat, di hutan, atau di kampung yang terus dibayangi ancaman kekerasan.
Anak-anak di daerah konflik tumbuh dengan trauma. Para ibu menyimpan kecemasan, para bapak kehilangan ruang hidup, dan orang tua menjalani hari tua dalam ketidakpastian. Bagi mereka, Natal bukan tentang pesta, tetapi tentang bertahan hidup di tengah situasi yang tak kunjung berubah.
Ironisnya, kisah kelahiran Yesus Kristus justru sangat dekat dengan realitas ini. Ia lahir dalam kesederhanaan, di tengah penindasan dan ketidakadilan. Pesan Natal adalah keberpihakan kepada yang kecil, yang tersingkir, dan yang menderita. Namun hari ini, Natal sering direduksi menjadi seremoni tahunan yang menutup mata terhadap luka sosial di sekitarnya.
Di Tanah Papua, Natal seharusnya menjadi momen refleksi bersama. Gereja dipanggil untuk tidak hanya merayakan Natal di altar, tetapi juga menghadirkannya dalam keberpihakan nyata kepada korban ketidakadilan. Negara pun perlu bercermin: damai tidak lahir dari senjata, dan kesejahteraan tidak tumbuh dari pembiaran.
Papua tidak kekurangan iman. Yang kurang adalah keadilan dan keberpihakan. Selama harga hidup dibiarkan melambung dan konflik terus dipelihara, Natal akan tetap berkisah tentang luka.
Dan mungkin, di situlah Natal Papua menemukan maknanya yang paling jujur: sebuah harapan yang terus bertahan, meski damai belum sepenuhnya turun ke bumi.
***