Hanok Pigai, Merintis Kopi Moanemani Go Internasional Melalui Enauto Coffee Cafe
Di balik secangkir kopi yang harum dari pegunungan Papua, tersimpan kisah perjuangan, ketekunan, dan mimpi besar seorang anak negeri. Dialah Hanok Erikson Pigai, pemilik Enauto Coffee Cafe di Nabire, seorang wirausahawan Papua yang berkomitmen mengangkat kopi asli Meepago ke panggung dunia.
Perjalanan Hanok tidak selalu mudah. Saat masih menempuh pendidikan, ia harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan kedua orang tuanya. Namun duka itu tidak mematahkan semangatnya. Dari keterbatasan dan perjuangan hidup, tumbuh tekad untuk membangun sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakatnya.
Kini, melalui Enauto Coffee Cafe, Hanok tidak hanya menjual kopi. Ia membawa cerita tentang tanah kelahirannya, tentang petani kopi di pedalaman Papua, dan tentang harapan agar hasil bumi Papua mendapat tempat terhormat di pasar nasional maupun internasional.
Kopi Arabika Organik Moanemani
Salah satu kopi unggulan yang dipromosikan adalah Kopi Arabika Organik Moanemani, yang tumbuh di sepanjang Lembah Kamuu, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Papua, pada ketinggian sekitar 1.800 meter di atas permukaan laut.
Kondisi geografis tersebut sangat ideal bagi pertumbuhan kopi Arabika berkualitas tinggi. Kopi Moanemani memiliki aroma yang kuat, cita rasa khas pegunungan Papua, tingkat keasaman yang rendah, serta diproses secara organik sejak masa pertumbuhan hingga menjadi green bean.
Keunggulan inilah yang membuat kopi Moanemani mulai dikenal sebagai salah satu kopi spesialti Papua yang memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar global.
Tantangan Petani Kopi Papua
Namun menghasilkan kopi berkualitas bukan perkara mudah.
Selama bertahun-tahun, para petani di wilayah Paniai dan Dogiyai masih melakukan proses penjemuran secara tradisional. Biji kopi dijemur di atas seng bekas, karung, atau terpal yang dibentangkan di tanah.
Ketika awan gelap datang, rasa cemas selalu menghantui. Hujan yang turun tiba-tiba dapat merusak kualitas kopi yang sedang dijemur. Belum lagi gangguan ternak yang sering menginjak atau mengacak-acak hasil panen saat pemilik kebun tidak berada di rumah.
Kondisi inilah yang mendorong berbagai pihak untuk mencari solusi guna meningkatkan kualitas pascapanen kopi masyarakat.
Pendampingan untuk Petani
Melalui program pendampingan yang dilakukan YAPKEMA bersama masyarakat, petani kopi mendapatkan pelatihan mengenai berbagai metode pengolahan pascapanen, seperti full wash, semi wash, honey process, dan natural process.
Mereka juga diajarkan cara mengolah kulit buah kopi menjadi cascara, minuman teh herbal yang memiliki nilai ekonomi tambahan.
Saat ini terdapat sekitar 80 petani kopi dampingan YAPKEMA di Kabupaten Paniai. Pada tahap pertama, sebanyak 48 petani menerima bantuan fasilitas tempat penjemuran kopi sebagai bentuk penghargaan atas keseriusan mereka dalam merawat kebun dan menerapkan teknik budidaya yang baik.
Program ini diharapkan mampu memutus salah satu mata rantai kendala yang selama ini dihadapi petani, sekaligus meningkatkan kualitas kopi Papua agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Mewujudkan Satu Juta Pohon Kopi
Pengembangan kopi di wilayah Meepago juga menjadi bagian dari cita-cita besar masyarakat Paniai untuk mewujudkan program penanaman satu juta pohon kopi.
Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan ekonomi masyarakat, tetapi juga menjaga lingkungan pegunungan Papua melalui sistem pertanian berkelanjutan yang ramah alam.
Melalui pendekatan pendidikan, pelatihan, media digital, podcast, vlog, dan promosi wisata kopi, berbagai pihak terus berupaya memperkenalkan potensi kopi Papua kepada dunia.
Dari Papua untuk Dunia
Bagi Hanok Pigai, kopi bukan sekadar komoditas perdagangan.
Kopi adalah identitas budaya, simbol perjuangan petani, dan jembatan yang menghubungkan Papua dengan dunia internasional.
Melalui Enauto Coffee Cafe dan berbagai inisiatif pemberdayaan masyarakat, Hanok ingin menunjukkan bahwa anak-anak Papua mampu berdiri sejajar di panggung global dengan karya dan inovasi mereka sendiri.
Di setiap cangkir Kopi Moanemani, tersimpan aroma tanah pegunungan Papua, kerja keras para petani, dan harapan besar bahwa suatu hari nanti dunia akan mengenal Papua bukan hanya karena kekayaan alamnya, tetapi juga karena kualitas manusianya.
Dari Meepago untuk dunia. Dari kebun-kebun kopi Papua menuju pasar internasional.