ZoyaPatel

OPINI: KONFLIK DOGIYAI—API LAMA YANG DINYALAKAN, RAKYAT SIPIL MENJADI KORBAN

Mumbai
Konflik berdarah di Dogiyai yang merenggut 11 nyawa warga sipil bukanlah sekadar insiden spontan. Ia adalah akumulasi dari api lama—ketegangan yang telah lama tersimpan, dipelihara oleh ketidakpercayaan, trauma masa lalu, dan pendekatan keamanan yang belum menyentuh akar persoalan. Api itu tidak pernah benar-benar padam. Ia hanya menunggu waktu, menunggu momen untuk dinyalakan.

Di tengah situasi ini, muncul pertanyaan-pertanyaan serius dari publik terkait peran berbagai pihak, termasuk dugaan adanya dinamika antara kerja intelijen dan operasi aparat keamanan seperti TNI/Polri. Kecurigaan semacam ini tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari pengalaman panjang masyarakat yang kerap merasa tidak mendapatkan penjelasan transparan atas setiap peristiwa kekerasan yang terjadi.

Namun, penting untuk berhati-hati dalam menarik kesimpulan. Tuduhan tanpa bukti yang jelas justru dapat memperkeruh suasana dan memperdalam konflik. Yang dibutuhkan saat ini bukan spekulasi, melainkan kejelasan. Negara, melalui aparat dan institusi terkait, memiliki tanggung jawab moral dan hukum untuk membuka fakta secara transparan dan akuntabel. Siapa pun yang terlibat dalam kekerasan yang menyebabkan korban sipil harus diproses secara adil—tanpa pengecualian.

Yang tidak bisa dibantah adalah kenyataan pahit bahwa rakyat sipil kembali menjadi korban. Mereka yang tidak bersenjata, yang tidak berada dalam lingkaran kekuasaan, justru menjadi pihak yang paling menderita. Ini menunjukkan bahwa pendekatan yang selama ini digunakan belum efektif dalam melindungi masyarakat.

Dogiyai hari ini adalah cermin dari kegagalan kolektif—kegagalan dalam membangun kepercayaan, kegagalan dalam menyelesaikan konflik secara damai, dan kegagalan dalam menempatkan kemanusiaan di atas segalanya. Jika konflik terus dipandang hanya dari sudut keamanan, tanpa membuka ruang dialog yang jujur dan setara, maka api ini akan terus menyala dari waktu ke waktu.

Sudah saatnya semua pihak menahan diri dan mengedepankan akal sehat. Pemerintah harus hadir bukan hanya dengan kekuatan, tetapi juga dengan empati dan keberanian untuk mendengar. Aparat keamanan harus memastikan bahwa perlindungan terhadap warga sipil menjadi prioritas utama dalam setiap tindakan. Dan masyarakat pun perlu diberi ruang untuk menyuarakan kebenaran tanpa rasa takut.

Sebelas nyawa yang hilang di Dogiyai bukan sekadar angka. Mereka adalah pengingat bahwa konflik yang dibiarkan tanpa penyelesaian akan selalu menemukan jalannya untuk kembali meledak. Jika tidak ada perubahan mendasar, maka tragedi serupa bukan tidak mungkin akan terulang.
Dogiyai tidak membutuhkan lebih banyak api. Ia membutuhkan keadilan, kejujuran, dan keberanian untuk mengakhiri lingkaran kekerasan yang telah terlalu lama berlangsung.

Oleh :W.Takapabii Doo
Ahmedabad