“Antara Cahaya dan Luka: Anak Gunung yang Mencapai Puncak”
Di sebuah lembah sunyi di pegunungan Papua, di Kampung Mamit, Distrik Kembu, Kabupaten Tolikara, pada 27 Juli 1967 lahirlah seorang anak laki-laki yang kelak dikenal banyak orang: Lukas Enembe.
Namun sebelum ia dikenal sebagai pejabat, ia hanyalah seorang anak kampung—berjalan tanpa alas kaki di tanah merah, menembus kabut pagi yang turun perlahan dari punggung gunung.
Bab I Anak dari Pegunungan
Lukas kecil tumbuh dalam keluarga sederhana. Ia anak keenam dari tujuh bersaudara. Rumahnya berdinding papan, beratap seng yang berisik setiap kali hujan turun. Di malam hari, suara angin yang menyusup dari celah dinding menjadi nyanyian panjang yang menemani tidurnya.
Ibunya sering berkata,
“Sekolah yang tinggi, nak. Jangan tinggal di gunung terus. Dunia lebih luas dari lembah ini.”
Kata-kata itu melekat seperti doa.
Ia berjalan berkilo-kilo meter untuk sekolah. Jalan berbatu, hujan, dingin, kadang lapar. Tetapi di matanya selalu ada nyala yang berbeda—keinginan untuk keluar, untuk kembali suatu hari nanti membawa perubahan.
Bab II Merantau dan Bermimpi
Waktu membawanya jauh dari pegunungan. Ia menyeberang lautan, belajar di bangku kuliah di Manado. Dunia terasa asing, tetapi ia bertahan. Ia belajar ilmu pemerintahan, berbicara tentang politik, tentang pembangunan, tentang harapan.
Di asrama yang sederhana, ia sering termenung.
“Suatu hari, saya harus kembali,” gumamnya.
Ia ingin membangun jalan agar anak-anak tidak lagi berjalan jauh. Ia ingin gedung sekolah berdiri di kampung-kampung terpencil. Ia ingin orang-orang pegunungan merasa diperhatikan.
Mimpi itu membawanya kembali ke Papua.
Bab III Tangga Kekuasaan
Kariernya menanjak. Dari birokrat, menjadi Wakil Bupati, lalu Bupati, hingga akhirnya ia duduk di kursi tertinggi sebagai Gubernur Papua pada 2013.
Nama Lukas Enembe disebut-sebut di kampung dan kota. Spanduk, baliho, sambutan meriah. Ia berdiri di podium-podium besar, berbicara tentang pembangunan, tentang harga diri orang Papua, tentang masa depan.
Di masa kepemimpinannya, jalan dibuka, gedung-gedung dibangun, stadion megah berdiri. Banyak yang memuji. Banyak pula yang bertanya.
Namun di balik jas rapi dan senyum resmi, tubuhnya mulai melemah. Penyakit datang perlahan—sunyi, tak terlihat publik.
Bab IV Bayang-Bayang Tuduhan
Tahun-tahun terakhir menjadi masa yang berat.
Kasus hukum menyeret namanya. Tuduhan suap dan gratifikasi datang dari pusat kekuasaan. Sorotan kamera tak lagi tentang pembangunan, melainkan tentang penyidikan.
Ia ditangkap pada Januari 2023.
Di ruang tahanan yang dingin, mungkin untuk pertama kalinya sejak lama, ia sendirian tanpa sorak-sorai. Hanya suara langkah penjaga dan detak waktu.
Sebagian orang marah. Sebagian menangis. Sebagian lagi memilih diam.
Papua terbelah dalam pendapat.
Bab V Hari-Hari Terakhir
Tubuhnya semakin lemah. Penyakit ginjal yang lama dideritanya kian parah. Ia dirawat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.
Di ruang rumah sakit yang sunyi, tak ada lagi panggung politik. Tak ada lagi podium. Hanya napas yang sesekali berat.
26 Desember 2023, kabar itu datang: Lukas Enembe meninggal dunia.
Di tanah Papua, kabut seolah turun lebih tebal hari itu. Tangis terdengar di beberapa sudut kota. Di kampung-kampung, orang berbicara lirih tentang perjalanan seorang anak gunung yang pernah mencapai puncak kekuasaan—dan jatuh dalam badai.
**Epilog
Antara Cahaya dan Luka**
Hidupnya adalah kisah tentang mimpi besar seorang anak pegunungan. Tentang kekuasaan yang tinggi dan cobaan yang lebih tinggi lagi. Tentang pujian dan tudingan yang berjalan berdampingan.
Ia bukan kisah yang hitam sepenuhnya.
Ia bukan pula putih sepenuhnya.
Ia adalah manusia—dengan ambisi, harapan, kelemahan, dan akhir yang sunyi.
Di lembah Tolikara, mungkin ada seorang anak kecil lain yang sedang berjalan menyusuri jalan berbatu menuju sekolah. Mungkin ia juga menyimpan mimpi yang sama besarnya.
Dan sejarah akan selalu mengingat:
bahwa dari gunung yang sunyi, pernah lahir seorang anak bernama Lukas.
Oleh : W.T Kaibou Doo