ZoyaPatel

Sejarah Nugini Belanda/Irian Jaya/Papua Barat

Mumbai


1. Masa sebelum tahun 1828
Orang Papua telah mendiami benua Sahul (yang kini sebagian besar terendam laut) setidaknya sejak 40.000 tahun lalu. Mereka hidup sebagai masyarakat pemburu dan peramu yang menyesuaikan diri dengan hutan hujan tropis di wilayah khatulistiwa. Setelah permukaan laut naik pada akhir zaman es Pleistosen, Sahul terpisah menjadi pulau besar yang kini dikenal sebagai Pulau Papua (New Guinea).
Sementara itu, peradaban awal di Jawa dan Sumatra berkembang sekitar abad ke-1 Masehi dengan pengaruh kuat dari India. Candi Borobudur dibangun antara tahun 778–850 M, dan pada 1292 Marco Polo mengunjungi Sumatra dan Jawa.
Pada 1509, Portugis tiba di Melaka dengan tujuan menguasai perdagangan rempah-rempah. Sejumlah kekuatan dagang besar kemudian muncul, seperti Kesultanan Gowa, Banten, serta VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) Belanda. Tujuan utama mereka adalah ekonomi, meskipun akhirnya berkembang menjadi kekuasaan politik.
Pulau Papua kemungkinan pertama kali terlihat oleh Portugis António d’Abreu pada 1511. Kontak langsung Eropa tercatat pada 1526–1527, ketika Jorge de Meneses terdampar di wilayah yang disebut “Isla Versija”. Pada 1528, penjelajah Spanyol Álvaro de Saavedra juga singgah selama sekitar 30 hari.
Tanggal 13 Juni 1545, pelaut Spanyol Yñigo Ortiz de Retez menamai pulau ini Nueva Guinea, karena dianggap mirip dengan wilayah Guinea di Afrika. Baru pada awal abad ke-17 dipastikan bahwa Papua adalah sebuah pulau, antara lain melalui catatan Luiz Váez de Torres, yang kemudian namanya diabadikan menjadi Selat Torres.
VOC, yang berdiri tahun 1602, memperoleh kekuasaan layaknya negara dari pemerintah Belanda. Pada 1605, kapal Duyfken menjelajahi pesisir selatan Papua. Abel Tasman melakukan pelayaran di sekitar Papua pada 1642. Namun, Papua dianggap kurang bernilai secara ekonomi, sehingga pengaruh VOC bersifat tidak langsung dan melalui Kesultanan Tidore.
Upaya kolonisasi Eropa pertama dilakukan oleh Inggris pada 1793 di sekitar Manokwari, tetapi gagal akibat penyakit dan perlawanan penduduk lokal.
Pada 17 Maret 1824, Belanda dan Inggris menandatangani Perjanjian London, yang membagi wilayah kolonial di Asia Tenggara. Papua Barat jatuh ke dalam wilayah klaim Belanda.

2. Tahun 1828–1941: Pembagian kolonial
Pada 24 Agustus 1828, Belanda secara resmi mengklaim wilayah Papua bagian barat hingga garis 141° Bujur Timur. Pos kolonial pertama didirikan di Fort Du Bus (Merkusoord), namun ditinggalkan pada 1836. Pos administrasi permanen baru dibangun pada 1898 di Fakfak dan Manokwari, serta Merauke pada 1902.
Tahun 1884, Jerman mengklaim Papua bagian timur laut (Kaiser-Wilhelmsland), sedangkan Inggris mengklaim bagian tenggara. Setelah Perang Dunia I, wilayah-wilayah tersebut dikelola Australia hingga akhirnya Papua Nugini merdeka pada 1975.
Nama “Indonesia” mulai digunakan pada 1884 oleh seorang ahli geografi Jerman.
Belanda mempertahankan sekitar 15 pos pemerintahan di Papua hingga 1941. Pada masa ini, Papua juga dijadikan tempat pembuangan tahanan politik, termasuk Haji Misbach dan ratusan aktivis komunis dari Jawa.

3. Tahun 1941–1945: Perang Dunia II
Papua memiliki posisi strategis dalam Perang Pasifik. Jepang menginvasi Papua sejak akhir 1941 dan menduduki sebagian besar wilayah hingga 1944. Pertempuran besar terjadi di Buna, Biak, Hollandia (Jayapura), dan Sansapor.
Selain pertempuran, penyakit malaria menyebabkan banyak korban. Jepang akhirnya menyerah pada 15 Agustus 1945.

4. Tahun 1945–1962: Nederlands Nieuw-Guinea
Setelah Perang Dunia II, Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 1945. Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 1949, namun tetap mempertahankan Papua Barat dan mempersiapkan kemerdekaannya sendiri.
Pada 1956, Papua Barat menjadi bagian dari Kerajaan Belanda. Tahun 1961, dibentuk Dewan Nugini, diciptakan lagu kebangsaan dan bendera Bintang Kejora, serta direncanakan kemerdekaan pada 1970.
Hal ini memicu konflik dengan Indonesia dan melahirkan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

5. Tahun 1962–1963: Masa UNTEA
Dari 1 Oktober 1962 hingga 1 Mei 1963, Papua Barat berada di bawah pemerintahan sementara PBB (UNTEA). Melalui tekanan geopolitik Perang Dingin, wilayah ini diserahkan kepada Indonesia, dengan syarat akan dilaksanakan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada 1969.

6. Tahun 1963–1969: Irian Barat / Irian Jaya
Sejak 1 Mei 1963, Indonesia mengambil alih Papua Barat. Dewan Nugini dibubarkan, simbol-simbol nasional Papua dilarang, dan aktivitas politik dibatasi. Pada 1967, Soeharto menjadi presiden dan nama wilayah diubah menjadi Irian Jaya. Pada tahun yang sama, perusahaan Freeport memperoleh kontrak pertambangan.

7. Setelah tahun 1969
Pada 15 Juli–2 Agustus 1969, pelaksanaan Pepera dilakukan melalui perwakilan yang dipilih dan berada di bawah tekanan militer. Hasilnya menyatakan Papua bergabung dengan Indonesia. Pada 17 September 1969, Irian Jaya resmi menjadi provinsi Indonesia.
Pada 2000, Presiden Abdurrahman Wahid mengizinkan penggunaan nama Papua, namun menegaskan bahwa Indonesia tidak akan menerima pembentukan negara merdeka di dalam wilayahnya.
Jika Anda ingin, saya bisa:
meringkas menjadi versi singkat,
menyesuaikan untuk buku sejarah, jurnal akademik, atau website,
atau membuat timeline visual khusus sejarah Papua.

Ahmedabad