PILOT PHILIPS MARK MEHRTES“20 BULAN DALAM RIMBA NDUGAMA-”
Mumbai
Ahmedabad
Tidak ada arena drama yang lebih sunyi daripada Ndugama, wilayah gunung dan lembah di pedalaman Papua. Di sana, dunia terasa sangat jauh. Tidak ada gemuruh kota, tidak ada lampu jalan, apalagi dering telepon. Hanya ada hutan yang tak berkesudahan, angin dingin yang menusuk tulang, dan tanah yang merekam setiap langkah manusia.
Prolog: Kedatangan yang Mengubah Takdir
Hari itu, langit Nduga tampak terang. Sebuah pesawat kecil mendarat di landasan Paro, suara mesinnya memecah keheningan yang purba. Pilot itu turun dari kokpit—seorang pria kurus dengan aura pekerja keras yang terbiasa mengangkut logistik ke sudut-sudut dunia yang tak tersentuh kendaraan lain.
Ia bukan tentara. Ia bukan pejabat. Ia hanyalah seorang penerbang yang menjalankan tugasnya, mengantarkan kebutuhan warga yang terisolasi. Namun dalam hitungan menit, takdir berubah total.
Panglima Ndugama, Egianus Kogoya, turun dari pepohonan dan perbukitan. Penumpang dilepas, kampung menjadi saksi, dan suara-suara tegang berbaur dalam bahasa yang tidak ia mengerti. Pesawat itu dibakar hingga menyisakan kerangka hangus. Pilot dibawa menjauh, masuk ke dalam hutan yang hanya dikenal oleh mereka yang lahir dari rahim rimba itu sendiri.
Berita meledak di dunia internasional: “Seorang pilot Selandia Baru disandera di Papua.”
Nama negara disebut, diplomasi bergerak, tetapi di dalam rimba—semua itu hanyalah gema yang nyaris tak terdengar.
Bab I: Hidup dalam Pelukan Rimba
Hari pertama adalah kejutan. Hari kedua adalah ketakutan. Hari ketiga adalah kesadaran pahit bahwa jalan keluar tidak akan datang dengan cepat.
Pilot itu berjalan bersama kelompok yang menjaganya, melewati sungai, menyeberangi jurang, dan membangun perkemahan dari daun pisang serta kayu basah. Malam-malamnya terasa abadi. Ia tidur di bawah tenda darurat, mendengar simfoni serangga dan rintik hujan.
Namun, ada hal lain yang tumbuh perlahan: pemahaman. Sang pilot melihat realitas Papua yang sesungguhnya:
Anak-anak pedalaman yang berjalan berjam-jam hanya untuk belajar.
Warga kampung yang hidup bersahaja dari kebun kecil dan hasil buruan.
Konflik yang bagi media hanyalah statistik, namun bagi mereka adalah kenyataan harian.
Bab II: Gema Diplomasi di Luar Rimba
Sementara itu, di dunia luar, mesin birokrasi bekerja keras. Pemerintah Selandia Baru bersuara, Indonesia melakukan pendekatan diplomatik, dan tokoh agama mencoba membuka jalur dialog. Namun, rimba punya hukumnya sendiri. Ia tidak bisa dipaksa terbuka oleh perintah dari gedung-gedung tinggi.
Bab III: Ketika Waktu Kehilangan Maknanya
Minggu berubah menjadi bulan. Bulan berubah menjadi setahun lebih. Pilot itu mulai hidup dengan ritme alam: bangun sebelum matahari, berjalan saat kabut tipis, dan makan dari hasil tanah.
Bagi pilot, drama ini bukan lagi tentang perang besar. Ini adalah drama ketahanan mental—perjuangan menahan takut, rindu, dan penantian yang panjang. Ia belajar bahwa di hutan, waktu tidak diukur dengan jam tangan, melainkan dengan pergerakan matahari dan frekuensi hujan.
Bab IV: Akhir dari Sebuah Penantian
Setelah hampir 20 bulan, jalur keluar akhirnya terbuka. Tidak ada baku tembak besar seperti film aksi. Yang bekerja adalah kekuatan negosiasi dan pendekatan damai melalui mediator lokal dan tokoh agama.
Ketika sang pilot akhirnya keluar, tubuhnya kurus dan berjanggut panjang—bukti nyata dari kehidupan yang berat. Ia kembali ke pelukan keluarga, negaranya bernapas lega, dan dunia perlahan menutup berita tersebut. Namun bagi tanah Papua, cerita ini belum usai.
Epilog: Suara yang Tertinggal
Drama ini bukan sekadar tentang seorang sandera. Ini tentang pertanyaan yang lebih besar: Siapa yang didengar? Siapa yang bicara? Dan siapa yang menulis sejarah?
Sang pilot telah pulang, namun rimba tetap menyimpan suaranya—suara luka, suara identitas, dan suara manusia yang ingin menentukan masa depan tanahnya sendiri. Papua masih berdiri dengan gunung yang tajam dan kisah yang belum selesai ditulis.
"Dunia melihat sandera. Papua melihat perlawanan."
Oleh: W. Abatabi Kaibou Doo
Meuwoo Rimba Papua, Tepian Kali Yawei 25 Januari 2026
Catatan Penulis (Disclaimer):
Tulisan ini adalah karya sastra yang terinspirasi dari peristiwa nyata di Tanah Papua. Narasi ini merupakan bentuk ekspresi literer atas aspirasi dan realitas yang ada. Karya ini tidak bertujuan memprovokasi kekerasan atau kebencian. Pembaca diimbau menyikapi cerita ini dengan kesadaran sejarah dan kebijaksanaan.
Peringatan Hak Cipta: Dilarang keras menghapus nama penulis, memodifikasi isi untuk tujuan menyesatkan, atau mengomersilkan tulisan ini tanpa izin tertulis dari penulis.