ZoyaPatel

FESTIVAL REGGAE KE-XI DI NABIRE MENGAPA BUKAN TEMA KEMANUSIAAN PAPUA?

Mumbai



Dari Sejarah Perjuangan Dunia hingga Panggung Reggae Nabire: Ketika Seni Merayakan Budaya, Siapa yang Menyuarakan Penderitaan Manusia?


OPINI |Oleh: Wempi W Doo 

Sejarah dunia mengajarkan bahwa seni tidak pernah benar-benar terpisah dari kehidupan manusia. Musik, puisi, sastra, teater, dan kebudayaan berkali-kali menjadi suara bagi mereka yang mengalami penindasan, diskriminasi, peperangan, dan ketidakadilan.

Karena itu, ketika Papua Reggae Festival XI di Nabire mengangkat tema Culture & Art atau budaya dan seni, sebuah pertanyaan kritis patut diajukan: di tengah konflik berkepanjangan dan persoalan kemanusiaan di Tanah Papua, mengapa bukan kemanusiaan yang ditempatkan sebagai pesan utama festival?

Pertanyaan ini bukan penolakan terhadap budaya. Bukan pula upaya merusak kegembiraan masyarakat yang berkumpul untuk menikmati musik. Sebaliknya, ini merupakan ajakan agar seni tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi ruang untuk mendengarkan suara masyarakat yang sedang mengalami penderitaan.

Sebab, sebuah festival dapat merayakan keindahan budaya sekaligus mengingatkan dunia bahwa di balik keindahan itu terdapat manusia yang mendambakan kehidupan aman, damai, dan bermartabat.

Sejarah dunia: ketika musik menjadi suara perlawanan

Dalam perjalanan sejarah, musik tidak selalu hadir untuk menghibur. Ada masa ketika sebuah lagu menjadi simbol keberanian, persatuan, dan perlawanan terhadap ketidakadilan.

Di Afrika Selatan, lagu Nkosi Sikelel' iAfrika dipopulerkan sebagai himne gereja, kemudian digunakan dalam pertemuan politik dan dinyanyikan sebagai bentuk perlawanan selama era apartheid. Pemerintah Afrika Selatan mencatat sejarah tersebut dalam penjelasan resmi mengenai lagu kebangsaannya. https://www.gov.za/about-sa/national-anthem-0

Pengalaman itu menunjukkan bahwa lagu dapat melampaui fungsi hiburan. Ia bisa menjadi bahasa bersama bagi masyarakat yang memperjuangkan martabat dan kesetaraan.

Di Jamaika, Bob Marley juga dikenal melalui musik yang mengangkat persoalan sosial dan mendorong perubahan. Situs resmi Bob Marley menjelaskan bahwa karya-karyanya mengidentifikasi penindasan dan menggerakkan perubahan sosial, sekaligus memberi ruang bagi pendengar untuk menari dan melupakan kesulitan hidup sejenak. https://www.bobmarley.com/history/

Warisan tersebut relevan bagi Papua. Reggae tidak harus kehilangan kegembiraannya ketika berbicara tentang kemanusiaan. Sebuah lagu dapat membuat orang menari, tetapi liriknya juga dapat mengajak mereka berpikir tentang perdamaian, ketidakadilan, dan masa depan generasi muda.

Jika musik pernah menjadi bahasa bagi masyarakat yang memperjuangkan kebebasan dan kesetaraan di berbagai belahan dunia, mengapa panggung reggae di Papua tidak sekaligus menjadi ruang untuk menyuarakan kepedulian terhadap penderitaan manusia?

Setelah dua perang dunia, dunia belajar tentang pentingnya perdamaian

Sejarah abad ke-20 memperlihatkan betapa besar kehancuran yang ditimbulkan oleh peperangan. Dua perang dunia meninggalkan korban jiwa, kehancuran masyarakat, dan luka kemanusiaan yang mendalam.

Dalam konteks itulah UNESCO dibentuk pada 1945 dengan keyakinan bahwa perdamaian tidak cukup dibangun melalui hubungan politik dan ekonomi antarpemerintah. Perdamaian juga membutuhkan pendidikan, penghormatan terhadap martabat manusia, solidaritas, serta pemahaman antarbudaya. https://www.unesco.org/en/vision

Pelajaran ini penting bagi penyelenggaraan festival di Papua. Budaya tidak semestinya hanya dipahami sebagai warisan yang dipamerkan, tetapi juga sebagai kekuatan untuk membangun perdamaian.

UNESCO sendiri menekankan bahwa kebudayaan dan seni dapat membantu menjembatani perbedaan, memperkuat kohesi sosial, serta mendukung dialog dan perdamaian. https://www.unesco.org/en/articles/cutting-edge-overcoming-barriers-peace-through-culture

Artinya, tema Culture & Art sebenarnya memiliki peluang untuk menjangkau persoalan kemanusiaan. Namun, peluang itu perlu diwujudkan melalui pesan, kegiatan, dan keberpihakan nyata terhadap kehidupan manusia.

Papua: ketika perayaan berlangsung di tengah persoalan kemanusiaan

Papua memiliki sejarah konflik yang panjang, dengan akar persoalan sejarah dan politik yang kompleks. Di sejumlah wilayah, terutama kawasan dataran tinggi, konflik bersenjata terus membawa risiko serius bagi kehidupan warga sipil.

Laporan Human Rights Monitor tertanggal 28 Juli 2026, yang mencakup periode April–Juni 2026, mendokumentasikan kekerasan terkait konflik, dugaan pelanggaran HAM, serta gangguan terhadap layanan kesehatan dan pendidikan. Laporan itu juga memperkirakan lebih dari 125.931 orang telah mengungsi akibat konflik bersenjata dan operasi militer di wilayah Papua yang mereka cakup hingga 30 Juni 2026. Angka ini merupakan estimasi dari organisasi tersebut, bukan angka resmi yang telah disepakati seluruh pihak. https://humanrightsmonitor.org/reports/papua-monitor-q2-2026-escalating-conflict-drone-attacks-and-mass-displacement/

Di balik angka tersebut, terdapat kehidupan manusia: anak-anak yang membutuhkan pendidikan, keluarga yang ingin kembali ke kampung halaman, orang sakit yang memerlukan pelayanan kesehatan, serta masyarakat yang menginginkan rasa aman.

Kondisi ini semestinya tidak hanya dibicarakan oleh organisasi kemanusiaan, gereja, media, atau lembaga hak asasi manusia. Dunia seni dan kebudayaan pun memiliki ruang untuk ikut membangun kepedulian.

Bukan berarti setiap festival wajib menjadi forum politik. Bukan pula berarti semua persoalan Papua dapat diselesaikan melalui musik. Namun, ketika sebuah perayaan berlangsung di tengah masyarakat yang menghadapi persoalan serius, wajar jika publik bertanya: sejauh mana perayaan tersebut memberi ruang bagi suara kemanusiaan?

Kritik kepada penyelenggara: mengapa bukan kemanusiaan?

Tema Culture & Art memiliki nilai positif. Budaya Papua perlu dilestarikan, seniman perlu memperoleh ruang, dan generasi muda perlu didorong untuk berkarya.

Namun, persoalannya bukan apakah budaya dan seni penting. Persoalannya adalah apakah pilihan tema itu telah memberi tempat yang cukup bagi realitas sosial masyarakat Papua.

Mengapa tidak mengangkat tema “Culture, Art & Humanity”?

Mengapa tidak menjadikan “Seni untuk Kemanusiaan, Musik untuk Perdamaian Papua” sebagai pesan utama yang menyertai festival?

Mengapa tidak membuka ruang khusus bagi kisah warga sipil yang terdampak konflik, karya foto dokumenter tentang kehidupan masyarakat dataran tinggi, pembacaan puisi perdamaian, atau dialog tentang bagaimana seni dapat membantu membangun solidaritas?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan tuduhan bahwa panitia sengaja mengabaikan penderitaan masyarakat. Tanpa penjelasan resmi, kita tidak mengetahui pertimbangan yang melatarbelakangi pemilihan tema festival.

Namun, publik tetap berhak mengajukan kritik dan usulan. Penyelenggara kegiatan kebudayaan dapat mempertimbangkan bukan hanya daya tarik hiburan, tetapi juga kesempatan untuk menyampaikan pesan sosial yang relevan dengan kehidupan masyarakat.

Sebab, ukuran kebermaknaan sebuah festival tidak harus berhenti pada jumlah penonton, kemeriahan panggung, atau banyaknya musisi yang tampil. Festival juga dapat dinilai dari gagasan yang ditinggalkan, percakapan yang dibuka, dan kepedulian yang tumbuh setelah acara berakhir.

Jangan sampai budaya hanya menjadi dekorasi

Ada perbedaan antara menampilkan budaya dan menjadikan budaya sebagai kekuatan sosial.

Menampilkan budaya berarti memperlihatkan musik, tarian, busana, dan tradisi kepada publik. Menjadikan budaya sebagai kekuatan sosial berarti menghubungkan seluruh ekspresi tersebut dengan martabat manusia, keberlangsungan hidup masyarakat, dan masa depan generasi berikutnya.

Papua memiliki banyak kisah yang dapat disampaikan melalui seni. Kisah tentang tanah adat, hubungan manusia dengan alam, solidaritas antarkampung, kehilangan, pengungsian, kerinduan terhadap keluarga, serta harapan untuk hidup tanpa ketakutan.

Kisah-kisah itu tidak perlu digunakan untuk memprovokasi kebencian atau memperdalam permusuhan. Sebaliknya, seni dapat menyampaikannya dengan cara yang manusiawi, berdasarkan kesaksian yang dapat dipertanggungjawabkan, dan berorientasi pada perlindungan warga sipil.

Panggung reggae dapat menjadi tempat perjumpaan berbagai pandangan. Orang-orang mungkin berbeda dalam melihat sejarah dan masa depan politik Papua, tetapi mereka tetap dapat sepakat bahwa warga sipil harus dilindungi, anak-anak berhak bersekolah, dan masyarakat membutuhkan akses kesehatan serta bantuan kemanusiaan.

Di situlah kebudayaan menemukan maknanya yang lebih dalam: bukan hanya sebagai simbol identitas, melainkan sebagai jembatan untuk saling memahami.

Kemanusiaan tidak seharusnya kalah oleh perbedaan politik

Konflik Papua tidak memiliki penyelesaian yang sederhana. Berbagai pihak memiliki pandangan berbeda tentang akar persoalan, tanggung jawab, dan jalan menuju perdamaian.

Namun, perlindungan warga sipil tidak seharusnya menunggu kesepakatan politik. Bantuan kepada masyarakat yang mengungsi tidak seharusnya terhalang oleh perbedaan pandangan. Pendidikan dan pelayanan kesehatan tidak seharusnya menjadi korban dari kekerasan yang berkepanjangan.

Pemerintah, aparat keamanan, kelompok bersenjata, tokoh adat, tokoh agama, organisasi masyarakat sipil, dan seluruh pihak terkait memiliki tanggung jawab sesuai peran masing-masing untuk mengurangi risiko terhadap warga sipil dan membuka jalan bagi dialog yang bermakna.

Festival kebudayaan tidak dapat menggantikan tanggung jawab tersebut. Namun, festival dapat ikut menciptakan ruang publik yang mendorong penghormatan terhadap kehidupan, kepedulian sosial, dan penyelesaian konflik secara damai.

Karena itu, mengusulkan tema kemanusiaan bukan berarti menjadikan seni sebagai alat satu kepentingan politik. Ini merupakan ajakan agar seni tetap memiliki kebebasan, tetapi tidak kehilangan kepekaan terhadap penderitaan manusia.

Dari Nabire, mari perluas makna Culture & Art

Papua Reggae Festival XI dapat menjadi momentum untuk membicarakan kembali hubungan antara kebudayaan dan kemanusiaan.

Panitia masih dapat menghadirkan kegiatan pendamping yang mengangkat pesan perdamaian. Musisi dapat menyampaikan seruan untuk melindungi warga sipil. Seniman dapat menampilkan karya tentang kehidupan masyarakat yang terdampak konflik. Organisasi kemanusiaan dapat dilibatkan untuk memberikan informasi yang dapat diverifikasi, dengan tetap menghormati privasi dan martabat para korban.

Jika dilakukan secara terbuka dan bertanggung jawab, langkah-langkah tersebut dapat memperluas makna festival tanpa menghilangkan tujuan utama perayaan budaya.

Kita tidak meminta panggung reggae berhenti bernyanyi. Kita mempertanyakan mengapa nyanyian itu tidak sekaligus menjadi ruang untuk mendengarkan mereka yang sedang menderita.

Kita tidak menolak kebudayaan. Kita justru ingin kebudayaan memiliki hubungan yang lebih kuat dengan kehidupan masyarakatnya.

Kita tidak meminta festival menjadi arena pertentangan. Kita mengajak agar festival turut membuka jalan bagi dialog, solidaritas, dan perdamaian.

Penutup: sejarah akan bertanya, apa yang dilakukan seni ketika manusia menderita?

Sejarah dunia menunjukkan bahwa lagu dapat menjadi simbol perlawanan, seni dapat membuka ruang dialog, dan kebudayaan dapat membantu manusia membangun kembali hubungan yang rusak akibat konflik.

Pengalaman tersebut tidak berarti musik mampu menyelesaikan seluruh persoalan. Namun, ia menunjukkan bahwa seni memiliki kekuatan untuk membuat penderitaan terlihat, menyatukan kepedulian, dan mengingatkan masyarakat bahwa manusia tidak boleh kehilangan martabatnya.

Karena itu, pertanyaan “Mengapa bukan tema kemanusiaan Papua?” layak menjadi bahan refleksi bagi penyelenggara, seniman, pemerintah, dan masyarakat luas.

Papua tidak kekurangan kekayaan budaya. Papua juga tidak kekurangan musisi dan seniman yang mampu menyampaikan kisah dengan kekuatan emosional. Tantangannya adalah bagaimana kekayaan itu dapat menjadi bagian dari usaha yang lebih luas untuk merawat kehidupan dan memperjuangkan perdamaian.

Ketika dunia pernah menggunakan lagu untuk melawan diskriminasi, ketika seni membantu manusia menghadapi luka peperangan, dan ketika kebudayaan diakui sebagai salah satu jalan menuju perdamaian, mengapa panggung reggae di Nabire tidak ikut mengangkat suara kemanusiaan Papua?

Biarlah Culture & Art tidak hanya menjadi tema yang indah di atas panggung, tetapi juga menjadi pintu untuk membicarakan keselamatan manusia, hak-hak warga sipil, dan masa depan generasi Papua.

Sebab, budaya yang hidup bukan hanya budaya yang diwariskan melalui lagu dan tarian. Budaya yang hidup adalah budaya yang juga mengajarkan manusia untuk peduli terhadap sesamanya.

Dari Nabire, satu pertanyaan untuk kita semua: ketika sebagian masyarakat Papua masih mendambakan kedamaian, apakah kita cukup hanya merayakan budaya, atau berani menjadikan kemanusiaan sebagai bagian utama dari suara kebudayaan itu sendiri?



PAPUA BERKISAH
Opini | Sejarah Dunia, Kebudayaan, dan Kemanusiaan Papua

Catatan redaksi: Tulisan ini merupakan opini dan kritik sosial, bukan pernyataan resmi penyelenggara Papua Reggae Festival XI. 

Ahmedabad