KEMARAU DAN EL NINO MENGUAT, PAPUA SELATAN DIHANTUI ANCAMAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN
NABIRE-PAPUA TENGAH— Musim kemarau yang semakin menguat bersamaan dengan fenomena El Niño meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua, terutama di wilayah Papua Selatan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa kondisi kering masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia. Dalam pembaruan 21 Agustus 2026, BMKG menyebut El Niño berada pada kondisi sangat kuat dan musim kemarau masih berlangsung, sementara titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi masih terpantau terutama di Kalimantan dan Papua.
Sebelumnya, BMKG juga telah menempatkan Papua Selatan sebagai salah satu wilayah yang perlu mendapat kewaspadaan tinggi terhadap risiko karhutla menjelang puncak musim kemarau Agustus–September. Kondisi tersebut berkaitan dengan menguatnya El Niño dan meningkatnya risiko kekeringan.
Papua Selatan menjadi sorotan
Data pemantauan yang dihimpun lembaga lingkungan Madani Berkelanjutan menunjukkan bahwa Papua Selatan mengalami peningkatan luas area terindikasi terbakar sepanjang 2026. Lembaga tersebut mencatat sekitar 41.790 hektare area terindikasi terbakar di Papua Selatan, dengan sekitar 37.418 hektare atau 89,5 persen terjadi pada Juli 2026.
Kabupaten Merauke menjadi wilayah yang paling luas terdampak dalam analisis tersebut, dengan sekitar 33.609 hektare area terindikasi terbakar, disusul Kabupaten Mappi sekitar 8.510 hektare.
Angka tersebut perlu dibaca sebagai area terindikasi terbakar, bukan otomatis seluruhnya merupakan hutan alam yang terbakar. Verifikasi lapangan dan analisis citra satelit diperlukan untuk menentukan jenis tutupan lahan serta penyebab masing-masing kejadian.
Satelit NASA dapat menunjukkan lokasi titik panas
Pemantauan kebakaran melalui satelit NASA, khususnya Fire Information for Resource Management System (FIRMS), menjadi salah satu instrumen penting untuk mengidentifikasi anomali panas di permukaan bumi.
Data satelit seperti VIIRS dapat membantu mendeteksi lokasi yang diduga mengalami kebakaran dan perkembangan aktivitas api. Namun, titik panas (hotspot) tidak dapat langsung dianggap sebagai bukti bahwa seluruh lokasi tersebut merupakan kebakaran hutan.
Karena itu, data satelit perlu dikombinasikan dengan citra resolusi lebih tinggi, kondisi cuaca, tutupan lahan dan pemeriksaan lapangan sebelum sebuah lokasi dapat dipastikan sebagai kawasan yang terbakar.
Kekeringan memperbesar risiko
BMKG mencatat bahwa pada Dasarian I Agustus 2026, curah hujan kategori rendah mendominasi sekitar 90,79 persen wilayah Indonesia, sementara sekitar 87,28 persen wilayah berada dalam kategori hujan di bawah normal.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa periode kering masih mendominasi dan meningkatkan kerentanan vegetasi terhadap kebakaran. BMKG juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar, terutama pada kawasan yang mudah terbakar seperti hutan, semak belukar dan lahan gambut.
Namun Papua memiliki karakter musim yang berbeda dengan sebagian wilayah Indonesia bagian barat. Karena itu, kewaspadaan terhadap karhutla di Papua Selatan perlu disesuaikan dengan pola musim lokal, bukan semata-mata mengikuti kalender kebakaran di Sumatra atau Kalimantan.
Bukan sekadar persoalan cuaca
Kondisi kering dapat memperbesar peluang api menyebar, tetapi kemarau tidak dengan sendirinya menjelaskan sumber api.
Pertanyaan penting yang harus dijawab adalah: dari mana api berasal, jenis lahan apa yang terbakar, apakah terjadi pembukaan lahan, dan apakah terdapat aktivitas manusia di sekitar lokasi sebelum kebakaran terjadi.
Data satelit dapat menunjukkan di mana dan kapan anomali panas terdeteksi, tetapi penentuan penyebab kebakaran membutuhkan verifikasi lebih lanjut.
Hal ini menjadi semakin penting di Papua Selatan karena kawasan tersebut memiliki bentang alam savana, rawa, hutan dan lahan basah yang luas. Setiap jenis ekosistem memiliki perilaku api yang berbeda sehingga pendekatan penanganannya juga tidak dapat disamaratakan.
Risiko belum berakhir
Dengan kondisi El Niño yang menguat dan musim kemarau yang masih berlangsung, ancaman karhutla di Papua Selatan belum dapat dianggap selesai.
BMKG masih meminta masyarakat dan pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.
Di tengah meningkatnya aktivitas titik panas, pemantauan satelit NASA, BMKG, serta citra satelit lainnya menjadi penting untuk memastikan apakah aktivitas api terus meluas atau mulai menurun.
Papua sedang menghadapi musim kering. Tetapi persoalan yang harus dijawab bukan hanya seberapa kering tanahnya—melainkan siapa, apa, dan bagaimana api itu muncul di atas tanah Papua.